Sunday, 18 May 2014

Anak Perokok Berat Berisiko Jadi Perokok Berat Juga

Semakin banyak seorang anak terpapar pada orang tua yang sering merokok, makin tinggi risiko si anak untuk tidak hanya merokok tetapi juga menjadi perokok berat.



Peneliti utama Darren Mays, seorang pengajar onkologi di Georgetown Lombardi Comprehensive Cancer Center, mengatakan ketergantungan pada nikotin membuat dorongan kuat untuk merokok muncul yang akhirnya membuat orang merasa butuh lebih banyak nikotin untuk merasakan efek yang sama. Tanoa nikotin, perokok akan merasa tidak bersemangat.


Studi ini melibatkan 400 orang tua dan anak remaja mereka yang berusia 12-17 tahun yang diwawancarai di awla dan akhir studi dan setelah satu tahun dan 5 tahun kemudian.


Mays dan koleganya di Harvard School of Public Health dan Brown University Medical School mengatakan bahwa temuan-temuan itu menunjukkan berhentinya orang tua untuk merokok di awal masa kanak-kanak mungkin penting untuk mencegah kebiasaan merokok di generasi berikutnya.


Studi yang akan diterbitkan di jurnal Pediatrics menemukan bahwa lebih lama waktu seorang anak terpapar kebiasaan merokok orang tua (dengan menggunakan kriteria American Psychiatric Association), makin besar risiko seorang remaja mulai merokok atau bereksperimen dengan rokok.


"Kami yakin bahwa pembelajaran sosial memainkan peran penting dalam kegiatan merokok antargenerasi,"ungkap Mays dalam sebuah pernyataan.


"Jika pembelajaran sosial ini menjaci kuncinya, makan anak-anak juga bisa belajar dari orang tua yang merokok bahwa berhenti merokok itu mungkin dan bijak."


Temuan ini menunjukkan bahwa  berhenti merokok setahun di awal kehadiran sang anak penting untuk mencegah si anak mengadopsi kebiasaan buruk itu di masa datang, kata Hays. (upi/akhlis)

No comments:

Post a Comment